Kamis, 19 November 2015

Tugas softskill 16

Penurunan BBM

Kebijakan penurunan harga Bahan Bakar Minyak diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 6% pada tahun 2015. Tentu angka itu melebihi target yang dicanangkan sebelumnya, kata ekonom Universitas Gajah Mada, Sri Adiningsih.
Menurut Sri, penurunan ini mendorong daya beli masyarakat yang bangkit kembali. Ditambah kebijakan penghematan anggaran yang sudah ditempuh, saya kira akan efektif mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 6%.
Menurut Sri, kebijakan pemerintah mengurangi subsidi BBM dan menurunkan harga BBM dikala harga minyak dunia turun memiliki dua keuntungan yang berbeda.
Pertama, yakni memperluas ruang fiskal untuk belanja produktif dan kedua, memulihkan kembali daya beli masyarakat.
Kendati demikian, ia mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mampu melebihi target yang dicanangkan 5,8% pada tahun 2015. Asalkan penyerapan penghematan anggaran untuk belanja produktif betul-betul mampu direalisasikan pemerintah.
“Penghematan anggaran sebesar Rp. 200 triliun itu harus bisa diserap untuk menyongkong pembangunan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, serta belanja produktif lainnya,” katanya.
Pemerintah secara resmi telah menurunkan harga bbm bersubsidi terhitung mulai 1 januari 2015. Harga premium diturunkan dari Rp.8.500 per liter menjadi Rp. 7.600 per liter, harga solar dari Rp. 7.500 per liter menjadi Rp. 7.250 per liter.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani mengatakan, pelaku usaha sangat setuju dengan kebijakan pemerintah terkait pengurangan pajak penghasilan (PPh) karyawan. Langkah itu dinilai dapat mendongkrak daya beli masyarakat. Pengurangan PPh tersebut masuk dalam paket kebijakan ekonomi jilid ketujuh dari pemerintah.
“itu bagus, artinya karyawan akan mendapatkan pendapatan lebih besar sehingga membuat daya beli masyarakat naik,” ujar Haryadi kepada Republika.co.od, selasa (17/11).
Haryadi menjelaskan, pelaku usaha tidak keberatan dengan kebijakan itu. Karena apabila daya beli masyarakat meningkat , maka penjualan produksi juga akan ikut naik.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak akan mengganggu penerimaan pajak pemerintah. Menurutnya, selama ini justru target pendapatan pajak pemerintah terlalu besar sehingga membebani pengusaha.
“justru stimulus ini yang harus dikejar, bukan meningkatkan target pendapatan pajak,” kata Haryadi.


Pendapat : Penurunan Bahan Bakar Minyak memiliki dampak positif yaitu dapat menunjang daya beli masyarakat, tetapi disisi lain dampak negatifnya adalah subsidi pemerintah terkesan sentral yang seharusnya dapat dibagi rata dengan subsidi lain seperti pendidikan.


ref : http://m.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/11/17/nxyues382

Tidak ada komentar:

Posting Komentar